Trik – trik Cerdas dari Dahlan Iskan, Berbisnis Tanpa Modal - TitahKita.com -->

Trik – trik Cerdas dari Dahlan Iskan, Berbisnis Tanpa Modal

BANYAK orang ketika baru mulai usaha, mau usaha apa ya? Nanti aja deh kalau sudah punya modal.

Atau nanti saja setelah tamat universitas. Atau nanti saja deh ketika ada pintu masuk.

“Orang yang berpikiran seperti itu tidak akan pernah bisa menjadi entrepreneur,” kata mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan -- yang juga seorang pengusaha.

Seseorang untuk bisa menjadi pengusaha, tapi menunggu modal, pada dasarnya dia tidak mau menjadi entrepreuner.

Sehingga dia cari kambing hitamnya -- yang kambing hitamnya adalah tidak punya modal. Atau nanti menunggu lulus kuliah.

“Nunggu lulus pun tidak akan menjadi entrepreneur. Dia akan menunggu apalagi, begitu,” kata Dahlan dalam sebuah video di channel Youtube.

Ada juga yang mengatakan kita belum punya ide. Mau bisnis apa? Nah yang berpikir seperti ini bukan entrepreneur.

Kalau memang ingin menjadi entrepreneur, lakukan saat itu juga. Mulai dari yang sangat kecil -- yang tanpa modal.

“Mungkin modalnya kesungguhan. Artinya menyakinkan orang. Banyak saya ketemu mahasiswa di universitas yang sejak semester satu sudah mulai menjadi pengusaha kecil-kecilan. Ada yang jual pulsa, ada yang jual jilbab, ada yang jual baju muslim,” tandas Dahlan.

“Yang itu sebetulnya tanpa modal sama sekali. Modalnya adalah menyakinkan orang dan berarti itu sungguh-sungguh.”

Ada percakapan begini.

“Pak saya mau usaha tapi tak punya modal. Mau menjualkan dagangan bapak.”

Bisa jadi sang bapak yang punya barang dagangan tidak langsung percaya.

“Ini anak bisa dipercaya tidak ya?” tanyanya dalam hati.

Maka perlu melakukan langkah agar pemilik barang bisa percaya.

“Untuk menyakinkan bisa dipercaya, Anda harus pertaruhkan sesuatu. Termasuk, misalnya kalau Anda punya handphone, hanphone kalau perlu ditinggal di situ,” tandas Dahlan yang pernah menjadi bos media ternama di Indonesia – Jawa Pos.

Nanti pelan-pelan akan ketemu, cara jualan seperti ini, ditipu orang seperti ini. Setelah itu nanti bisa terbuka pintu.
Misalnya begini.

Dikisahkan.

Dahlan punya kisah teman, yang kurang lebih juga pernah dilakukan olehnya.

Dia tidak punya modal sama sekali. Dia jualin permen. Kalau jual satu toples begitu gampang. Peluang bisa dipercaya lebih mudah.

“Kan kalau hilang satu toples.”

Dia jualan satu toples permen. Keliling kampung ke kampung. Sore lapor ke toko -- ke pemilik permen. Besok harinya bawa lagi. Lapor lagi. Bawa lagi. Lapor lagi.

Kemudian si pemilik ini dipercaya. Kemudian boleh bawa dua toples.

Terus tiap hari lapor, tiap hari menyetorkan uang. Anak ini bisa dipercaya. Jualan tiga toples.

“Terus berkembang begitu. Tapi harus sabar. Mulainya dari satu toples.”

“Jangan belum-belum menginginkan, saya mau membawa 10 toples. Ya tidak akan dipercaya orang,” tegasnya.

Nah yang dijelaskan di atas adalah bisnis tanpa modal – wujud uang.

Lama –lama setelah berjualan belasan toples dia berpikir.

“Lha saya bisa bikin sendiri.”

Dia jualan permen. Dia tahu bungkusnya bagaimana. Kalau rusak diperbaiki. Tiap hari jaualan.

“Saya bisa bikin permen ini, tinggal beli gula sama adonannya,” aku penjual permen keliling tadi.

Kemudian dia bikin permen sendiri. Tapi tetap jualan permen orang lain.

Dicampur. Lama-lama permennya laku. Lama-lama menjadi besar. Bukan pabrik permen, tapi industri di rumah -- UMKM.

Mula-mula dari satu kilo gula, lalu tambah dua kilo. Tiga kilo, sampai berkwintakl-kwintal.

Permen kecil-kecilan, tetangganya jadi karyawannya.

Lama-lama berpikir, dia beli gula berkwintal-kwintal. Dia kulakan sendiri -- daripada di toko harganya lebih mahal.

Lama-lama dia ke pabrik gula. Boleh gak beli satu ton. Dia beli gula ke pabrik.

Lama-lama usahanya tamnbah besar. Keperluran gula tambah banyak. Punya hubungan baik dengan pabrik gula.

Lalu kok transportasinya mahal, lalu beli truk. Kemudian permennya berkembang, beli truk dua.

“Setelah beli truk dua, lho kok ini, berangkatnya kosong ya.”

Pulang dari pabrik gula, penuh dengan gula. Tapi berangkatnya kosong. Ini rugi.

Nah. Lalu kerja sama dengan pabrik gula.

“Barang apa yang bisa diangkut ke pabrik gula.”

Disepakati. Berangkatnya bawa barang-barang milik pabrik gula. Pulangnya bawa gula untuk usahanya.

Punya usaha dagang permen. Punya usaha truk.

Lama-lama dipercaya sama pemilik pabrik gula untuk mengangkut barang-barang pabrik gula.

“Dia beli truk lagi. Akhirnya punya 20 truk,” ucapnya.

Setalah punya 20 truk lalu berpikir.

Pabrik gula tidak sepanjang tahun menggiling gula. Empat bulan truknya mengganggur.

Dia cari pintu lagi. Barang apa yang bisa diangkut selain gula. Yang dilirik adalah kopra.

“Dia mengangkut bahan minyak kelapa.”

Angkut kelapa terus. Lama-lama dia kenal dengan pemilik pabrik minyak goreng. Lama-lama dia tahu.

Dia membuat pabrik minyak goreng. Nah kemudian besar-besar.

Meski punya jasa tranportasi, punya pabrik minyak goreng, usaha membuat permen tetap dilakukan.

Tetap dia pertahankan, meskipun secara bisnis tidak ada artinya dibanding usaha-usaha dia yang baru.

“Nah ini, yang saya maksud pintu tadi. Mula-mula hanya jualan satu toples permen, tidak punya modal, modalnya hanya kepercayaan dari toko permen, tetapi terbuka karena sungguh-sunguh.”

Terbuka dia. Ooo… ternyata bikin permen itu gampang. Dia bikin permen sendiri. Dagang gula, terbuka truk -- angkutan kepala, minyak kepala. Dan, tetap mempertahankan permen. Kini suah punya toko emas dan perdagangan emas. Tetapi tetap usaha permen.

Itu pertanda kertika awal dia jualan permen itu modal sungguh-sungguh. Itu luar biasa.

“Inilah sungguh-sungguh 24 karat. Bukan sungguh-sungguh 20 karat. Atau bukan sungguh 18 karat. Atau bukan sungguh-sungguh yang tidak berkarat sama sekali.” (facebook makna sugi)

0 Response to "Trik – trik Cerdas dari Dahlan Iskan, Berbisnis Tanpa Modal"

Post a Comment