Seram! Nikah di Bulan Suro (1) - TitahKita.com -->

Seram! Nikah di Bulan Suro (1)

 

foto: titahkita.com
Seram! Nikah di Bulan Suro
---
SUDAH sejak zaman nenek moyang. Warga di dusunnya Pak Kucing tidak berani menggelar pesta pernikahan di bulan Suro atau Muharram.

Yang diyakini warga. Bulan itu “menyeramkan”. Bisa membawa petaka. Manusia seperti “diskat mat” untuk hidup.
Bila tetap digelar di bulan sakral itu. Pestanya akan berjalan berantakan. Tidak ada tamu yang datang memberi ucapan. Amplop berisi uang juga tidak akan datang.
Paling berat. Hidup sepasang pengantin akan susah selamanya, hingga ajal menjemput.
“Itu hanya mitos,” kata Pak Kucing saat menanggapi pandangan istrinya. 
Pak Kucing selama setahun belakangan menimbang-nimbang untuk menggelar pesta pernikahan putranya. Dijodohkan dengan gadis manis tetangga desanya. Pernikahan bulan Suro tahun ini.
Pak Kucing kadang mantap. Kadang juga ragu-ragu. Tapi banyak mantapnya. Karena, untuk menikahkan putranya sudah “cukup modal”. Hasil panen padi di sawah warisan orang tuanya, dua minggu kedepan, dirasa lebih dari cukup. 
“Pokoknya saya tidak setuju pak, kalau nikahan anak kita di bulan Suro. Saya takut nanti membawa bencana bagi keluarga kita dan keluarga anak kita,” sahut Bu Kucing. 
Pak Kucing jadi mikir lebih dari seribu kali.
Bayangannya ditambah kepercayaan orang-orang dusun selama ini yang menggelar hajat di bulan Suro akan terkena petaka. Apalagi istrinya tidak juga mendukung keinginannya.
Memang selama ini juga belum ada bukti. Bahwa hajatan di bulan Suro akan gagal total. 
Pak Kucing lalu pergi ke teras rumah dari kamarnya. Di teras dia menyulut rokok hasil lintingannya. Otaknya terus berputar. Bul…bul…asap yang keluar dari mulutnya.
“Kalau tidak digelar bulan Suro nanti, belum tentu aku punya uang Rp 6 juta hasil panen. Itu belum tentu. Ini hasil panen terbaik selama ini,” kata hati lirih berdialog diri. 
Anak satu-satunya kesayangan Pak Kucing juga sudah pas untuk dinikahkan. Dia sudah ‘ngebet’ kawin.
“Kalau tidak dinikahkan secepatnya, nanti bisa kawin lari. Keluargakan yang malu,” argumennya.  
Pak Kucing cukup lama berdiskusi pada dirinya sendiri, lintingannya sudah habis empat, sampai dua jam-an.
Masyarakat di dusunnya memang Islamnya belum begitu kuat. Masih terkenal dengan abangannya. Tetapi meski begitu masjid tetap ada. Saat salat, sepi dari jamaah.
Ramainya, kalau hari Jumat dan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha untuk salat id.
Di dusunya juga belum ada kyai. Belum ada yang jago agama. Pengetahuan ilmu agama masih di bawah rata-rata, hanya pengetahuan salat, puasa, dan zakat. Masalah-masalah hukum fiqih, usluhudin, syariat lemah.
Pak Kucing malam itu juga memutuskan untuk pergi ke kyai cukup terkenal di perbatasan kabupaten. Waktu tempuhnya lima jam-an dengan jalan kaki.
“Bapak dari mana saja semalam. Kok saya cari sampai rumah tetangga tidak ada. Marah sama saya?” tanya Bu Kucing saat melihatnya duduk termenung di ruang tamu pada esok harinya.
“Tidak, bapak tidak dari mana-mana, hanya jalan-jalan saja,” jawabnya.
“Bu hari ini minta tolong, buatkan saranggesing (makanan tradisional) sama gorengan tempe. Minumnya teh sama kopi. Jangan lupa juga belikan tembakau, cengkih, garet, menyan untuk lintingan (rokok yang dibuat sendiri). Itu uangnya ada di selip peci. Ambil saja semua,” pintanya. 
“Bapak mau ngumpulkan orang-orang dusun, ada 20-an. Hendak bentuk panitia pernikahan anak kita,” sambungnya kembali pada istrinya.
Bu Kucing sempat menolak lagi. Tapi, setelah diberi penjelasan yang gamblang akhirnya ia manggut-manggut sebagai tanda setuju.
“Bapak-bapak sekalian, minta bantuan tenaga dan pikiran untuk pesiapan pernikahan anakku, Jumat Kliwon bulan Suro besok,” kata Pak Kucing saat berbicara di hadapan tetangganya pada malam harinya.
Orang-orang yang datang diam, mereka menganggap Pak Kucing sudah gila. 
Tidak patuh pada tradisi leluhurnya, nenek moyangnya.Sebagian tetangga bergegas pamitan, sebagai tanda tak mau membantu dan tidak setuju atas acara hajatan keluarga Pak Kucing. Mereka khawatir akan kena dampak negatif bila setuju dengan Pak Kucing.  
Pak Kucing tetap melanjutkan perkataannya. 
“Dari keterangan Pak Kyai yang aku temui, bulan Suro itu baik. Bulan ini tidak bulan klenik.” 
Dikatakan lagi, bulan Suro adalah dimana Allah SWT menciptakan bumi, menciptakan neraka, ada kemenangan perang di zaman Nabi Muhammad.
“Semua itu dilakukan di bulan Suro. Orang-orang ‘nyuci’ keris saja di bulan Suro. Semua itu dilakukan hari Jumat,” tandasnya dengan menggebu-gebu.
Orang-orang yang diundang jadi setengah percaya.
“Kata Pak Kyai lagi, dulu orang-orang tidak menggelar hajatan nikah di bulan Suro. Karena, saat itu digunakan orang-orang berkelas, pejabat, orang-orang berpunya. Kalau sama-sama digelar bersamaan dengan itu ditakutkan tamunya akan menjadi sepi, hingga akhirnya sampai saat ini jadi mitos. Mitos kalau mengadakan pernikahan di bulan Suro akan membawa petaka. Masihkan saudara-saudara, bapak-bapak percaya?” 
Orang-orang tetap ragu atas pernyataannnya. Mereka semua berpamitan pulang. Hanya tinggal piringan kosong. Semua telah dilahap para tetangga yang diundang.  
Pak Kucing tetap nekad menggelar pernikahan di hari itu juga. Selain menyakinkan istri dan tetangga, juga calon besannya.
Esok harinya Pak Kucing ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan putra dan calon menantunya. Sekaligus mengundang penghulu. 

Hingga hari H, acara pun jadi digelar. Dihadiri sebagian keluarga Pak Kucing dan keluarga mantunya. Semua berjalan normal, hingga hari Jumat Kliwon habis, tanpa ada petakan dan bencana. Bahkan hingga cucunya lahir semuanya baik-baik saja. 
“Ini karena aku yakin ke Gusti Allah. Alhamdullilah setahun ini baik-baik saja. Semuanya aman,” syukur Pak Kucing. (titahkita.com)

0 Response to "Seram! Nikah di Bulan Suro (1)"

Post a Comment