Menjawab Tantangan, Jangan Biarkan Griya Tahfidz Tenggelam - TitahKita.com -->

Menjawab Tantangan, Jangan Biarkan Griya Tahfidz Tenggelam

Santriwan Griya Tahfidz Kota Magelang
Menjawab Tantangan, Jangan Biarkan Griya Tahfidz Tenggelam
---
BUTUH dukungan. Karena bergelut menjalani tantangan. 
Tantangan besar. Tantangan identitas. Tantangan harga diri lembaga -- lembaga milik umat.

Lazismu -- Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Muhammadiyah -- Kota Magelang, Jawa Tengah tertantang untuk nguri-uri siswa agar tak putus sekolah. Terlebih bisa membonusi ilmu pengetahuan agama yang lebih mendalam -- melebarkan sayap menambah kebaikan, fastabiqul khairat.

Langkahnya mendirikan tempat untuk siswa penghafal Al-Quran.

"Tantangan kami sanggupi," kata Sekretaris Lazismu setempat, Fury Fariansyah, Sabtu (18/7/2020).

Untuk beasiswa, Lazismu sudah melangkah. Namanya Beasiswa Mentari -- khusus siswa. Adalagi Beasiswa Sang Surya -- khusus mahasiswa.

Belakangan ini Lazismu juga memberikan beasiswa ke siswa SMA Muhammadiyah 1 Alternatif (Mutual) Kota Magelang. Nilainya Rp 22,5 juta.

Sebagai tempat penimba agama, sebenarnya Lazismu juga sudah memberikan beasiswa untuk siswa yang tinggal di asrama -- MBS (Muhammadiyah Boarding School) di Jalan Tidar dan Jalan Singosari.

"Tapi kami punya tempat baru. Namanya Griya Tahfidz. Ini baru dirintis. Baru berjalan sepekan," akunya.

Punggawa-punggawa di Lazismu kompak. Yang mayoritas diisi darah-darah muda. Saat titahkita.com berkunjung ke Griya Tahfidz, ada yang sedang menjalani piket. Mereka membahas serius berlangsungnya Griya tersebut.

Bahkan punggawa itu rela tidur di sana -- Griya Tahfidz di kompleks Gedung Dakwah Muhammadiyah: Sanden, Kramat Selatan, Magelang Utara.

Dukungan yang dibutuhkan bukan hanya doa. Tapi juga komitmen untuk terus menambah chas. Materi yang berupa pundi-pundi rupiah, saat ini paling dibutuhkan. Tentunya disalurkan lewat Lazismu  -- klik sini

Rupiah jika sudah terkumpul akan dibelanjakan untuk sarana. Seperti kasur, almari hingga meja belajar. Hal ini mengingat, di kompleks yang dulu diresmikan Pak Amien Rais tersebut, fasilitasnya masih minim. Padahal, cita-citanya mencetak generasi hafal Al-Quran dan dai-dai muda kompeten.

Meski dengan keterbatasan, untuk menggapai cita-cita mulia itu, yang penting jalan saja dulu. Konsep, visi, misi sudah ada. Yang belum lengkap dukungan materi.

Dengan keterbatasan saat ini, Griya Tahfidz tetap akan jalan.

Keterbatasannya: dipan -- tempat tidur -- bertingkat belum ada kasur khusus. Meja belajar terbatas. Apalagi almari -- blas kosong mlompong.

Kasur yang ada tipis -- sudah tak layak. Ini saja beralas lantai.

Pakaian-pakaian “para penyerap” ayat-ayat kitab suci itu masih digantungkan di paku yang menempel tembok.

Ada juga yang ditaruh di kardus-kardus -- tapi tetap terlipat rapi.

Meja untuk belajar juga kurang memadai. Mari dibantu.

Di sana ada empat kamar. Ukuran 3 x 2 meter. Keadaanya sama semua. Minim fasilitas. Kamar itu bagian dari Gedung Dakwah Muhammadiyah.

Tempat untuk menjemur pakain pun juga belum ada. Masih ala kadarnya -- masih digantungkan di tembok-tembok halaman gedung.
Ruang kamar minim fasilitas
Sementara ini, diisi tujuh remaja calon penghafal Al-Quran. Mereka masih sekolah di tingkat atas. Asalnya dari Magelang dan sekitar.

Tidak ada salahnya bila sarana memadai. Fasilitasnya ok. Belajar di tempat yang nyaman juga dibutuhkan. Agar bisa lebih konsentrasi -- fokus.

Fasiltas pengampu, pengajar sudah disiapkan. Stoknya banyak. Baik dari Pemuda Muhammadiyah maupun dari dosen Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA).

“Kalau untuk pendidiknya kita tidak ada kendala,” ujarnya.

Mereka akan dijadwal bergilir dalam mentranferkan ilmu. Yang dipelajari, selain menghafal Al-Quran, juga yang lain. Seperti kitab-kitab hadist: Arbain Nawawi, Riyadhus Shalihin. Materi Bahasa Arab hingga khitobah juga sudah disiapkan.

Untuk jadwalnya sehabis shalat maghrib, isyak, dan subuh. Siang harinya menjalani sekolah.

“Griya Tahfidz untuk siapa saja. Bukan hanya dari warga Muhammadiyah. Saat ini yang ada adalah siswa yang kurang mampu,” tambahnya.

Ambulans untuk Angkut Siswa


Bukan hanya itu. Jarak sekolah dengan Griya Tahfidz juga mengalami kendala. Kendalanya ada di transportasi. Jaraknya sekitar 7 kilometer.

Setelah pandemi covid-19 berakhir, atau jika pembelajaran tatap muka dilangsungkan kembali, maka mereka terpaksa naik mobil ambulans milik Lazismu sebagai sarana transportasi menuju sekolah. Sekolahnya di SMA Muhammadiyah 2 Kota Magelang yang lokasinya masuk wilayah kabupaten -- ini nyata.

“Ya mau gimana lagi. Kalau belum ada sarana tranportasi, ya naik ambulans,” kata pengurus Lazismu lainnya, Abdul Qodir.

Naik ambulans tak akan senyaman naik angkutan kota. Jika semua diangkut, ada yang harus duduk jongkok mengelilingi meja tandu -- meja untuk pasien, meja untuk jenazah.

Paling nyata hari ini, untuk menunjang transportasi mereka adalah sepeda onthel. Ngirit. Hemat. Menyehatkan. Berangkatnya harus pagi-pagi. Bantuan sepeda sangat dibutuhkan untuk mereka. 


Kebutuhan Makan Patungan


Soal perut juga urgent. Lazismu masih menjadi penanggung jawab utama. Utamanya beras -- bahan pokok.

Kalau pun ada siswa atau santri yang pulang, beban lembaga dengan jaringan se-Nusantara itu terkurangi. Sebab, jika kembali lagi akan membawa aneka sayur – mayoritas mereka berasal dari daerah pertanian.

“Pulangnya digilir. Bisa dua minggu sekali,” jelasnya lirih.

Salah satu yang menjadi siswa atau santriwan di sana adalah Husnul Muadzib. Remaja dengan tubuh tinggi, berkulit sawo matang ini berasal dari Dusun Kopeng Kulon Desa Sutopati Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang -- Lereng Sumbing.

Ia merasa terbantu dengan keberadaan Griya Tahfidz, selain terpenuhinya kebutuhan harian, biaya pendidikan, yang tak kalah penting adalah ilmu agama.

“Walau masih dengan fasilitas yang terbatas, saya kransan-krasan- kan (dibetahkan). Ini masih adaptasi,” terang Husnul yang sekarang duduk di kelas II.

Masih ada kesempatan untuk mengulurkan tangan ke mereka. Jangan biarkan mereka sendiri. 

Sisihkan lembaran-lembaran nominal di pucuk dompet. Jangan biarkan mereka tenggelam. klik sini

Jangan biarkan catatan ini berhenti di tangan Anda. (titahkita.com)

0 Response to "Menjawab Tantangan, Jangan Biarkan Griya Tahfidz Tenggelam"

Post a Comment