Maulid Nabi, Jernih Sikapi Perbedaan - TitahKita.com -->

Maulid Nabi, Jernih Sikapi Perbedaan

DI lingkup wilayah saya; Ada yang NU. Ada juga yang Muhammadiyah. Dari kedua ormas ini, berbeda sikap dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad terkait pembacaan kitab Berzanji.

Yang saya ketahui, mayoritas warga NU memperingatinya dengan membaca kitab tersebut. Mulai tanggal 1 Rabiul Awal hingga 12 Rabiul Awal. Kitab Berzanji tersebut menceritakan sejarah Nabi.

Sedangkan bagi Muhammadiyah tidak melakukannya. Begitukan?

Menulik dari tulisan Direktur PPs UIN Alauddin Makassar, Ahmad M Sewang dengan judul “Kontroversi Maulid Nabi dan Barzanji” dalam artikelnya disebutkan bahwa Maulid Nabi diperingati pertama kalinya pada Dinasti Ayyubiyah pada abad V H/XI M, di bawah pemerintahan Khalifah Salahuddin al-Ayyubi.

Dari hal itu, tulisnya, dapat dipahami jika sebagian ulama ada yang tidak setuju melaksanakannya.

Mereka berpandangan, peringatan maulid adalah termasuk bidah yang dilarang agama. Pendapat semacam ini dikemukakan ulama Saudi al-Syekh Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baz dalam bukunya Fatawa Muhimmat li Umum al-Ummah.

"Tidak boleh memperingati maulid Nabi, karena peringatan semacam itu adalah bidah dalam agama. Nabi dan para sahabat tidak pernah mencontohkannya. Padahal merekalah yang paling mengetahui masalah agama."

Pendapat tersebut di atas didasarkan pada HR Sunan al-Nasai.

Berbeda bagi para ulama yang pro. Mereka berpandangan, sekalipun peringatan maulid tidak pernah dilaksanakan Nabi dan para sahabatnya, tetapi Nabi tidak pernah menganjurkan atau pun melarang untuk memperingatinya. Sehingga, memperingatinya tidaklah secara otomatis bisa dikategorikan sebagai bidah yang diharamkan.

Untuk itu, diperlukan pemahaman tentang apa yang dimaksud bidah. Bidah adalah sesuatu yang baru setelah Nabi yang menyangkut masalah ibadah mahdah, seperti salat, puasa, haji dan ibadah ritual lainnya.

Nabi bersabda: "Salatlah sebagaimana engkau melihat saya salat." HR Bukhari.

Sebagai ibadah mahdah, pelaksanaan salat di mana dan kapan pun harus persis sama dengan Nabi. Artinya tidak boleh ada penambahan atau pengurangan. Penambahan atau pengurangan terhadap ibadah mahdah adalah bidah yang hukumnya adalah haram.

Sedang ibadah gair mahdah atau ibadah sosial yang menyangkut pengembangan kebudayaan, justru berlaku sebaliknya. Perlu pembaharuan dan inovasi agar umat Islam tidak tertinggal atau ditinggalkan oleh umatnya sendiri.

Inovasi dalam bidang kebudayaan, justru dianjurkan oleh Nabi. Bagi pro maulid menolak anggapan jika Nabi tidak pernah memperingati maulidnya.

Bahkan Nabi memperingatinya setiap minggu. Hanya saja terdapat nuansa perbedaan dengan yang dilakukan sekarang. Nabi lebih menonjolkan pada ibadah ritual. Sedangkan kaum muslim sekarang lebih menonjolkan ibadah sosialnya.

Dalam sebuah hadis dikemukakan, Ketika ditanya tentang berpuasa pada hari Senin, Nabi menjawab:

"Itu adalah hari kelahiran saya, dan pada hari itu pula wahyu diturunkan pada saya.”

Dari dulu sudah ada perbedaan pendapat. Kini pun masih tetap ada. Jangan kaget ya?

Bagi saya yang pro silahkan. Yang kontra silahkan. Yang penting jangan saling mem-bully. Hargai perbedaan pendapat. Tetap junjung kerukunan. Tetap berpikir jernih. (facebook makna sugi)

0 Response to "Maulid Nabi, Jernih Sikapi Perbedaan"

Post a Comment