Kaya Raya dalam Lima Menit (6) - TitahKita.com -->

Kaya Raya dalam Lima Menit (6)

 

foto: titahkita.com
Kaya Raya dalam Lima Menit
---

PAK Kucing diajak menimbang-nimbang.
Menjadi kaya raya tapi harus melalui proses lama. Bertahun-tahun. Lima tahunan lebih.
Atau...
Menjadi kaya raya melalui proses singkat. Dalam hitungan menit. Lima menit.
“Lima menit mau kaya. Kaya dari mana. Miara tuyul. Ah tidak ah. Itu dilarang. Dosa,” kata Pak Kucing.
Mau kaya raya ya harus kerja keras. Bangun pagi. Pulang sore. Bergaji Rp 10 juta per bulan.
Atau...
Menjadi pebisnis yang tak pernah merugi. Omzet minim Rp 5 juta per bulan. Bulan ke bulan berikutnya omzet menanjak lagi.
Dan itu butuh proses lama.
“Mau kaya cepat ya korupsi. Korupsi dari mana? Saya bukan pejabat. Mau jadi wakil rakyat saja tak punya duit.”
“Paling-paling korupsi dalam mimpi. Dapat uang banyak di alam semu. Terbangun mendengar adzan subuh, uangnya sudah hilang.”
Mau kaya cepat? Ya mencuri. Mencuri uang di bank. Mencuri emas, mutiara, berlian di pusat perhiasan.
“Mau kaya cepat lewat jalur haram, waktu singkat, tapi kok itu dilarang agama,” gumalnya.
Haram mencuri pakai teknik apapun.
Pertimbangan-pertimbangan itu muncul setelah Pak Kyai mengajak Pak Kucing mikir.
Mikir sesuatu yang dipikirkan. Penting untuk kehidupannya. Manfaat dunia. Manfaat akhirat. Dapat dua-dua. Menyenangkan.
Bagi yang sudah berusia tua, dan tidak ada kesempatan menjadi kaya raya, tidak perlu kecil hati.
Memang yang sudah berusia uzur, peluang meninggal lebih besar. Walau tak menjamin: yang muda mati belakangan, yang tua mati duluan. Siapa saja bisa sampai ajal duluan.
Mati sudah menjadi garis Tuhan. Tidak bisa ditawar. Rezeki habis mati pun datang. Semua tinggal menunggu waktu. Menunggu ajal. Batas hidup di dunia terbatas.
Kalau di akhirat kekal. Untuk hidup kekal perlu bekal. Mencarinya di dunia.
Lantas bagaimana orang tua. Atau, anak muda yang sudah ingat mati mau kaya raya?
“Yang miskin. Yang tidak punya harta untuk sedekah jangan kecil hati. Anda tetap kaya,” jelas Pak Kyai.
Agama itu datang membawa keadilan. Sedekah juga untuk investasi akhirat. Ibadah lain di luar sedekah juga untuk investasi akhirat. Catatannya, niatnya benar.
“Jika melakukan amalan ini, lebih baik daripada dunia dan seisinya,” tambahnya.
Di dunia bermacam isinya: limpahan harta, limpahan rumah, limpahan mobil, limpahan emas, limpahan berlian. Semua itu kalah dengan ini.
“Jalani saja salat dua rakaat fajar. Salat sunah qobliyah subuh. Anda sudah menjadi kaya raya. Waktunya lima menit saja.”
“Tapi berat melaksanakannya,” sahut Pak Kucing.
"Yang belum terbiasa memang berat. Beratnya bangun pagi-pagi. Sebelum matahari terbit. Saat waktu subuh tiba. Begitu mata terbuka, setan akan memberikan bisikan kuat: masih dingin, berselimut lagi saja. Masih mengantuk, tidur lagi saja," jelas Pak Kyai.
Bisikan setan lagi: awas! di belakang rumah, dekat tempat wudhu, ada pocong, kuntil anak, manusia tanpa kepala. Bisikan setan akan ada saja. Di situlah kita berperang. Menang mana?
"Beribadah butuh dipaksa. Paksakan diri. Beranikan diri. Tidaklah rugi," tambahnya. (titahkita.com)

0 Response to "Kaya Raya dalam Lima Menit (6)"

Post a Comment