Demi Air Wudhu (7) - TitahKita.com -->

Demi Air Wudhu (7)


Ilustrasi air wudhu. foto: internet

Demi Air Wudhu 
---
PROTES yang digencarkan warga untuk menghalau pengaspalan jalan kampung tidak berhenti. Rasa keberatan lewat lisan sudah disampaikan ke petugas survai lapangan. Sudah dilampiaskan ke kontraktor. Dibuatkan surat resmi oleh pak RT ke pemerintahan juga sudah.

Tapi tak mempan. Tak ada jawaban. Diam. Protes warga diabaikan. Dianggap tak penting. Dianggap sampah yang sudah tidak bisa didaur ulang. Parah!

Tak ada diplomasi dua arah. Ini seiring burung yang berkicau tanpa henti. Tanpa kicau imbal balik.

Upaya untuk mengaspal jalan tetap ngotot. Masuk gang-gang juga. Total sepanjang lima kilometer. Paving-paving yang sudah terpasang puluhan tahun akan digilas panasnya aspal. Bakal berubah warna. Dari putih menjadi abu-abu.

Alat berat didatangkan. Guna meratakan beberapa bagian jalan. Ada yang sedikit menanjak. Sementara bego masih diletakkan di dekat gapura kampung.

Begitu tahu esok harinya bego akan masuk, warga kompak. Malamnya beraksi. Aksi senyap dengan gerak cepat, meski malam mendung disertai rintihan petir.

Bentuk aksinya. Jalan masuk ditutup pakai drum yang di dalamnya sudah diisi batu-batu besar. Jumlahnya tiga. Dipasang posisi berdiri. Di sampingnya dipatok pakai besi. Melingkar. Agar tidak goyah. Kokoh sekali. Tidak bisa diangkat.

Yang bisa lewat hanya motor. Sepeda ontel. Pejalan kaki.

“Bego Haram Masuk”. Begitu bunyi selembar karton yang ditancap di drum tengah.

Mobil warga juga telah diparkirkan sementara di luar kampung. Dekat tiga drum besar. Dibuatkan garasi. Bertiang bambu. Beratap terpal. Mirip tempat pengungsian.

75 persen mobil milik warga diparkir rapi. Bagai showroom. Mobilnya mewah-mewah. Ajero, Ortuner, Kamri, sedan BWM, CeRVi. Berkelas.

"Heran. Kenapa warga di sini menolak pengaspalan. Jalan diaspal bagus. Mulus. Tidak membuat kaki tersandung."

"Jalannya juga bersih. Kalau ada daun-daun jatuh, daun rontok, seperti daun mangga, jambu, rambutan, kelengkeng, bila hujan deras tersapu bersih air, tanpa harus membayar petugas kebersihan. Uangnya bisa untuk sedekah."

“Perkampunganya juga akan semakin elit. Lebih enak dipandang. Lebih tertata rapi. Mentereng. Lebih berkelas.”

“Tidak ada lagi debu berterbangan jika kemarau. Tanpa polusi. Udaranya juga akan lebih segar.”

“Coba kenapa warga menolak.”

Begitulah prasangka dalam hati Pak Kucing yang tengah menatap tulisan larangan bego masuk itu. Pagi harinya.

***
Kontraktor minta bantuan pemerintah. Kerja sama. Satpol PP didatangkan. Hendak memuluskan proyek pengaspalan.

Pasukan satu mobil pikap didatangkan. Mereka mencoba mencabut besi-besi yang tertancap di sekelilingnya. Berat. Beratnya diluar prediksi. Tidak seberat ketika mereka mempreteli spanduk-spanduk di jalan. Sungguh tidak semudah ketika mereka memasang plakat larangan mendirikan bangunan.

Besi dicabut pun tetap tidak bisa. Dua orang, tiga orang, empat orang tidak kuat. Tidak mempan. Mencoba lagi semakin loyo.

Pasukan hijau itu kembali ke markasnya. Perjalannya ditempuh satu jam. Cukup jauh. 30 km.

Mereka kembali lagi. Yang datang lebih banyak. Pasukan satu truk. Biar lebih cepat eksekusinya.

Harus buru-buru, biar tidak ketahuan warga kampung. Pumpung sebagian warganya sedang kerja di luar kampung. Biar tidak dilawan. Biar tidak dilempari bebatuan kecil atau kerikil seperti barisan penghalau demo mahasiswa.

Satu besi digarap empat orang. Masing-masing bawa alat besi pemotong yang besar. Satu dari sisi timur, sisanya dari barat, selatan dan utara. Memotongnya butuh waktu lama.

Bego itu juga difungsikan untuk menggempur jika besinya hampir terputus. Gluk. Satu persatu besi terputus. Berhasil ditempa.

Kini giliran menggeser drum. Tapi waktunya sudah tak cukup. Sudah senja. Keburu warga kampung pulang ke rumah masing-masing dari tempat kerja.

***

“Besinya sudah tertancap lagi,” kata Pak Kucing yang melawati jalan di depan gapura itu, esok harinya kemudian.

“Luar biasa penolakannya.”

Pak Kucing terkadang melewati perkampungan tersebut. Untuk sekedar mencari suasana segar. Bisa lihat bangunan bertingkat. Mobil mewah. Suasana asri. Sejenak melupakan aktivitasnya di sawah di desanya.

Pak Kucing memang esok itu menyempankan datang lagi. Penasaran dengan penolakan warga. Malamnya, sebelum paginya Pak Kucing tiba di kompleks perkampungan itu, warga kompak. Memasang besi yang telah tercabut. Ukuran lebih besar. Jumlah lebih banyak. Kuat sekali.

***

Hari kemudian lagi, meterial – material drum-drum aspal juga sudah datang. Truk pembawa pasir sudah berjajar. Tukang-tukang bangunan juga sudah siap dengan alatnya.

***

Suasana kampung lengah. Ditinggal bekerja warga dengan mengendarai mobil-mobil mewah. Di kampung hanya ada dua orang satpam, pembantu rumah tangga, anak-anak kecil dengan baby sister-nya.

Mereka juga diminta diam untuk tidak melawan petugas. Biar besi dan drum yang menolak dengan diam dengan kekeh.

Nenek-nenek, kakek-kakek di sana jalannya sudah berduyun. Sudah tidak konsen lagi dengan kehidupan dunia. Apalagi mikirkan jalan kampung yang dulu mereka bangun. Pikirannya sudah akhirat. Beribadah. Mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa. Mereka sadar usianya sudah uzur. Tinggal menunggu dipanggi Illahi.

***

Kampung itu dulunya sawah. Lalu dijadikan kaplingan. Dijualbelikan. Semua warganya pendatang. Orang-orang kantoran. Bisnismen. Dokter. Di dalamnya tak ada pejabat.

Jalan perkampungan itu memang cuma satu. Masuk dan keluarnya satu jalan. Jalannya buntu. Tapi jalannya lebar. 10 meter.

Tetapi karena sekadar proyek, agar bisa dibangun pakai APBD tahun ini, maka kepemilikan jalan diubah paksa oleh pemerintah menjadi jalan milik pemerintah daerah, tiga tahun lalu. Dengan kepemilikan itu. Dengan aset itu, pemerintah leluasa untuk bertindak apa saja.

Kalau ada pembangunan irigasi tidak ditolak. Ada pemotongan ranting-ranting pohon pengganggu jalan juga tidak ditolak.

Lima hari setelah kedatangan pertama, Satpol PP datang lagi. Mereka juga hendak memotong besi-besi penghalang sebagai pelingkar drum. Berat.

Kontraktor tetap ngebet untuk membangun. Di proyek itu sebagai acuan awal. Untungnya juga besar. Setengah miliaran.

Jika lancar dijanjikan pemerintah untuk membangun proyek-proyek besar lainnya. Ditunjuk langsung. Lumayan. Tapi jangan ada yang minta jatah.

***

“Kita tahu kualitas air PDAM  sekarang turun. Bau kaporitnya menyengat. Warnanya juga terkadang coklat. Berbau. Juga ada bakterinya, seperti salmonella dan disentri, pestisida, senyawa anorganik seperti arsenik dan timbal, dan unsur radioaktif seperti radon.”

“Jadinya terkontaminasi. Ini bahaya dapat menyebabkan masalah kesehatan. Pencernaan tergangguan, reproduksi, dan kelainan neurologis. Parah lagi jika airnya diminum bayi, anak kecil, wanita hamil, orangtua, dan orang yang sistem imunnya lemah.”

“Belum lagi dampak lainnya. Bisa menimbulkan gejala awal seperti mual, muntah, diare dan kram perut. Zat berbahaya lainnya bahkan kadang tidak menyebabkan gejala sama sekali. Jika seseorang terus menerus meminum air tercemar, mikroba dan senyawa kimia tersebut bisa menyebabkan masalah seperti penyakit tiroid dan kanker untuk dampak jangka panjangnya.”

Jelas dokter di perkampungan tersebut kepada baby sister-nya, asisten dan pembantu rumah tangganya dengan panjang lebar, 10 hari sebelum ada penancapan drum.

"Dari hasil rapat. Karena kondisi air dari PDAM begitu, warga di sini tetap pilih pakai sumur. Kita mengandalkan air sumur. Kualitasnya bagus. Jernih dan tidak membahayakan bagi kesehatan. Aman diminum."

"Kita berpikir panjang. Kalau diaspal. Maka airnya akan mengalir deras di jalan aspal. Cuma lewat jalan saja. Menuju sungai sebrang barat. Kalau masih pakai paving, maka bila hujan, airnya terserap. Ada resapannya. Bisa masuk ke tanah lewat tepi-tepi paving. Bisa menambah air di aliran air bawah tanah. Air jalurnya sumur."

"Ingat. Kampung sebelah. Setelah jalannya di aspal, tiap musim kemarau panjang air sumurnya semakin menipis. Bahkan tidak bisa lagi ambil. Asat. Jadi warga di sini tak mau kehilangan air bersih dan sehat."

"Karena bagaimanapun, air sumur, berasal dari air hujan, yang tersimpan di dalam tanah. Hujan karunia dari Allah. Jangan dicaci."

"Jangan biarkan jalan aspal-aspal mengancam sumur warga. Sumur harus tetap ada airnya. Demi air wudhu. Biar kita bisa wudhu. Tidak tayamum, jelang shalat.”

Tutup penjelasan dokter. Sembari hendak berliburan ke museum keagamaan bersama keluarga. Baby sister, asisten, dan pembantu rumah tangga juga diajak. Liburan seru! (titahkita.com)

0 Response to "Demi Air Wudhu (7)"

Post a Comment