Tanpa Kyai, Dusunnya Jadi Hampa (2) - TitahKita.com -->

Tanpa Kyai, Dusunnya Jadi Hampa (2)

 

foto: titahkita.com
Tanpa Kyai, Dusunnya Jadi Hampa
---
JEBOLAN pondok pesantren di dusunnya Pak Kucing kosong. Tempat mengaji untuk anak-anak pun tidak ada. Pengajian selapanan apalagi. Khotib Jumat atau salat Id dua hari raya “ngebon” (mendatangkan) kyai dari daerah lain.
Pak Kucing nangis batin atas kondisi ini seiring langit yang meneteskan air hujan. Tak bisa dibendung. 
Di kamar. Pak Kucing dan istrinya bertukar pikiran. Mereka berbincang tentang masa depan dusunnya. Karena, selama ini tidak ada yang paham agama secara mendalam. Tidak sampai pada akar-akarnya. Pahamnya dipermukaan.
Tidak ada ustadz maupun kyai. 
“Masjid sudah ada tapi kalau khotib selalu mendatangkan orang luar. Dusun kita kerdil. Dusun lainnya sudah punya kyai sendiri-sendiri. Sampai kapan akan seperti ini terus. Ini sudah terjadi sejak nenek moyang kita bu,” curhatnya. 
Istrinya tetap diam. Lebih memilih mendengarkan.
“Siapa ya bu yang bisa paham agama di dusun kita kelak. Bapak ini hanya sebulan ngaji sekali, selapanan. Itu pun keluar dusun.”
“Ya siapa pak. Kalau anak kita tidak mungkin. Dia sudah nikah, sudah berkeluarga sendiri. Tinggal di rumah mertua.”
Malah semakin larut, perlahan pembicaraan itu sirna. Mereka lelah setelah bekerja seharian di sawah, bercocok tanam. Tertidur lelap.
Pak Kucingnya “ngorok”. Istrinya, tidak. Ayam jago peliharaannya bersiul. Klukuruyuk, sampai berkali-kali. Keduanya terbangun.
Jam waktu salat subuh tiba. Menuju ke masjid. Yang jamaah hanya hitungan jari. Tak sampai lima orang.
Yang datang cuma dua orang tetangga barat dusun. Satu orang tetangga tengah dusun, dekat masjid. Masjid itu belum ada nama berlabel arab-arab.
“Yang jamaah saja sepi bu,” cetus Pak Kucing saat kembali pulang.
Sampai di rumah, mereka bergegas ke sawah, di barat dusun. Dua petak, semua warisan. Pak Kucing baru saja menanam padi. Mereka disibukkan dengan menyiangi tanaman. Rumput-rumput yang dekat dengan tanaman padi dicabuti.
Istrinya memilih pulang dulu, sebelum matahari tepat di atas kepala. Ia ingin menyiapkan makan siang untuk suaminya.
“Ini pak makan siangnya,” ucapnya saat mempersilahkannya ketika sampai rumah.
Sambil makan bersama mereka berbincang. Tetap melanjutkan pembicaraan tadi malam. 
“Bu ternyata anak tetangga kita ada yang mau mondok. Tadi Bapak ketemu saat pulang dari sawah. Dia diantar bapaknya jalan kaki, bawa tas besar. Katanya mau nyantri ke luar provinsi.”
“Syukurlah pak.” (titahkita.com)

0 Response to "Tanpa Kyai, Dusunnya Jadi Hampa (2)"

Post a Comment