Satu Tangisan Kiran (Pak Kucing #10) - TitahKita.com -->

Satu Tangisan Kiran (Pak Kucing #10)

Ilustrasi anak menangis (foto: int)

Satu Tangisan Kiran

---

PANIK. Pada keluar rumah. Pertama anak laki-lakinya, Farhan, 8 tahun. Dia cepat menuju teras rumahnya. Sekelilingnya dipenuhi tanaman aglonema.

Suara yang lahir dari mulutnya keras.

"Tolong...! Tolong...!Tolong!"

Tak ada satupun yang menjawab. Farhan lihat kanan kiri tak ada orang. Sepi. Biasanya di sekitar rumah itu ramai.

Rumah-rumah tetangga juga nampak nyenyet. Suara anak-anak kecil bermain tak terdengar. Kerasnya suara televisi juga tak ada. Radio apalagi. Terdesak oleh zaman.

Hendak memukul kentongan yang biasa buat ronda bapaknya, tak terpikirkan. Makin panik.

Bocah yang memakai baju kuning itu turun ke jalan. Kerasnya suara minta tolong makin kencang. Tapi tak ada yang mendengar. Paling hanya ayam. Jenis unggas ini pun tak mengerti bahasa Farhan.

"Tolong...tolong...kebakaran."

Di luar sunyi. Di dalam gemuruh api makin menjadi. Dari sekecil percikan api yang mengenai tumpukan kertas koran, lalu membesar menjadi sekarung. Merambat.

Di dalamnya masih ada bapak dan ibunya. Dan juga ada adiknya Farhan. Namanya Kiran. 6 tahun.

Ibunya mendadak menyusul putra pertamanya. Ia sudah tidak kuat lagi menahan panasnya api.

Bapaknya masih berjuang di dalam memadamkan api. Menggunakan ember. Airnya mengambil dari kolam di samping rumahnya. Yang penuh ikan.

Ibunya menuju telpon genggam. Mencari nomor kontak pemadam kebakaran (damkar). Ketemu. Dihubungi. Sayangnya tidak nyambung.

Nelpon tetangga, Pak RT, pihak pemerintah desa tak bisa.

Dicek *123# ternyata saldo pulsanya nol.

Farhan dan ibunya menangis makin kencang. Percuma di luar. Sinyal pertolongan tak kunjung datang. Mereka beranjak ke dalam rumah.

Di wilayah itu hanya ada tujuh rumah. Ada di dusun. Jauh dari pemukiman padat penduduk. Tidak seperti di dusunnya Pak Kucing yang kini sudah padat penduduk.

Orang-orang di sekitar rumah Farhan, semua pada pergi. Ada yang ke ladang, ada yang liburan, ada yang kondangan. Maklum hari itu hari Ahad.

Rumah yang terbakar itu sudah berdinding bata batu. Hanya bagian dapur saja yang dindingnya dari kayu. Kayu mahoni. Tua dan kuat. Tapi kalau sudah terkena api, meleleh.

Bapaknya terus berjuang memadamkan api. Keringat bercucuran. Ngos-ngosan. Sesekali mengusap keringatnya. Menahan pantulan panasnya si jago merah.

Istri dan anak pertamanya membantu. Jangan sampai ganasnya api membakar seluruh rumah. Cukup dapur saja. Itu sudah untung.

Ibunya terus mengambil air. Anaknya turut membawa dengan ember satunya. Sesekali sang anak jatuh. Lantainya sudah agak licin. Terbasahi percikan air, muncratan dari ember yang dibawa bapaknya.

Meski Farhan jatuh, bangkit lagi. Berjuang keras membantu bapaknya. Jatuh lagi. Berdiri lagi.

"Pak ini airnya. Jangan sampai kendor. Ayo pak, bu terus. Airnya harus padam," celetup Farhan yang baru saja menjadi juara satu cerdas cermat bersama dua rekan sekolahnya.

Gairah suara tersebut makin menambah semangat. Mereka ibarat tim yang menjadi pemadam kebakaran atau damkar. Kerjanya keras, cerdas walau tanpa latihan. Spontanitas. Diluar perhitungan.

Perlahan api mulai surut. Perlahan.

Tepi-tepi sebagai pembatas ruang antara dapur dan ruang makan sudah ditumpahi air. Menyetop menjalarnya api.

Api tinggal bersisa. Asap masih mengepul. Api makin mengecil dan padam.

Untungnya, dapurnya masih nampak berbentuk. Tapi satu dinding ada yang gosong. Tiga dindingnya ludes. Termasuk perkakas dapurnya. Ruangan lainya selamat. Api gagal membakar rumah seisinya.

Mereka menangis tersedu-sedu. Tapi tetap  bersyukur.

"Alhamdulillah api tidak membakar semuanya. Kita harus sabar Bu. Ini ujian. Nanti bisa kita bangun lagi," kata bapak ke istri dan anaknya.

Tetesan air mata tak terbendung. Masih saja turun ke bumi.

Yang belum berhenti menangis adalah anak kecilnya. Kiran. Ia tetap menangis lama atas musibah itu.

Mencoba "dining-nang ning gung", tetap belum berhenti nangisnya.

"Gak papa nak. Nanti dapurnya bisa dibangun lagi. Ayo sudah. Cup-cup-cup."

Kiran menjawab dengan tersendat.

"Itu lho Bu, boneka saya. Boneka gosong."

Kiran hanya menangisi bonekanya. Kebakaran itu diangap angin lalu saja. Maklum boneka yang diberi nama Wiki itu sudah menjadi temannya. Menjadi kesayangannya.

Mulai dari Kiran bayi hingga kini. Boneka telah menjadi bagian erat hidupnya. Untuk bisa tidur, Kiran harus memeluk boneka sambil didongengin ibunya.

Sebelum kebakaran terjadi, Kiran menemani ibunya memasak. Boneknya dibawa. Saat api merambat, Kiran lari ke kamar depan, hingga api padam.

Apinya muncul saat Kiran bermain lilin. Api disulutkan ke lilin. Lalu menjalar ke kertas koran. Sang ibu lalai, terlalu asik memasak. (titahkita.com)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Satu Tangisan Kiran (Pak Kucing #10)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel