Mandi Wajib 40 Kali Semalam (Pak Kucing#8) - TitahKita.com -->

Mandi Wajib 40 Kali Semalam (Pak Kucing#8)

Ilustrasi (sumber: int)

Wajib 40 Kali Semalam

---

SUDAH sering Abdul membaca tulisan "bersih sebagian dari iman". Waktu di sekolah dasar pun menjumpai. Apalagi di tingkat sekolah menengah pertama. Pun waktu menempuh pendidikan di atas dua jenjang itu.

Tapi kini ditemui lagi hal sejenis. Tapi poinnya beda. Isinya: "suci sebagian dari iman".

Dua kata berbeda. Diawalnya saja. Keduanya mengarah ke bagian iman. Bagian artinya bukan untuh. Hanya sebagian. Lalu mengapa bisa menjadi bagian iman? Nah itulah yang direnungkan. 

Abdul melihat tulisan baru tersebut saat berada di Masjid Al-Amin. Di daerah perkotaan.

Usai shalat duhur, saat di serambi masjid, tulisan ajaib itu seperti mendekat. Mata Abdul kunang-kunang. Lemas tak berdaya.

Abdul sadar betul. Kata ajaib tersebut baru muncul hari ini. Sebelum-sebelumnya tidak. Tembok-tembok masjid berdinding mengkilap bersih. Yang menempel hanya jam dinding dan kipas angin merek ternama. Satu lagi tambah tempelan "Saat Khutbah Harap Tenang. Matikan HP Anda".

"Tulisannya kok kelap-kelip. Model digital. Ini keren," batin Abdul sambil mengucek mata.

Abdul cukup lama merenungkan kata-kata itu di lantai putih bergaris cokelat. Hujan deras pun belum menggugah pikirannya untuk bisa memahaminya.

Abdul masih bingung. Dirinya bertanya-tanya. Tentu saja tidak mungkin cuma sekadar kata tanpa makna. 

Ada maksud tertentu pesan yang ingin disampaikan takmir masjid ke jamaah. Atau mungkin pesan bagi siapa saja yang singgah di masjid. Pesannya agar bisa menjaga kesucian: dalam islam tentu berwudhu, bertayamum, mandi wajib.

"Saya hanya sekadar memasang saja. Sepertinya daripada kata bersih, kata suci lebih menarik. Orang iman tentunya suci. Orang iman tentunya bersih," jawab seorang takmir masjid.

Maaf. Terus mengapa bisa begitu?

"Karena hadistnya begitu. Saya ngikut teks hadist saja."

Jawab orang berpeci hitam itu hanya begitu saja. Mandek. Tidak ada penjelasan yang bisa diterima akal lebih lanjut. 

Abdul memahaminya masih buntu. Seperti jalan di rumahnya yang tiada jalan lain. Hanya ada satu jalan. Kalau mentok harus balik arah. Kalau pun terus nabrak tembok. Kepala bisa benjut. Nyooot.

Abdul masih belum bisa memahami. Pertanyaan itu tetap disimpan baik-baik. Lebih rapat dari menyimpan lembaran uang merah di dompet.

Abdul masih punya pekerjaan. Ia masih menunggu kabar istri. Kabar sampai rumah jam berapa? Begitu istrinya sampai rumah, Abdul akan pulang.

Abdul memang sering shalat di Masjid Al Amin. Lebih seringnya duhur. Seminggu bisa sampai empat kali. Kalau hari Minggu di rumah. Kalau Jumatan di masjid dusunnya.

Hujan agak reda. Tapi kalau pun berjalan tetap basah. Abdul memberanikan diri untuk melawan hujan. Naik sepeda onthel tanpa mantol. Biasanya ia membawa mantol. Tapi hari ini lupa. Nasib.

"Mas saya sudah sampai rumah."

Isi sms di handphone ber-antena pukul 14.18 WIB. Dari istrinya.

Abdul menuju ke sepedanya yang terpakir di emperan timur masjid. Standarnya disenggol pakai kaki kanan. Dinaiki. Jalan perlahan. Basah-basahan.

***

Jamaah sekalian. Kita tahu. Bahwa suci itu tingkatannya lebih tinggi daripada bersih. Orang bersih belum tentu suci. Sedangkan orang suci dipastikan bersih.

Suci yang dimaksud di sini adalah suci dari hadast kecil maupun hadast besar. Terbebas dari dua hadast.

Begitu kita kentut, begitu kita kencing langsung wudhu. Begitu baju terkena kotaran burung emprit, burung merpati. Bisa langsung segera disucikan bagian yang terkena kotoran itu. Atau kita bisa langsung ganti baju juga. Yang penting bisa terbebas dari najis.

Jamaah sekalian.

Begitu juga usai bersenggama bagi bapak ibu yang sudah berkeluarga, ikatan suami istri. Untuk bersuci, yang dilakukan bisa langsung mandi. 

Misalnya lagi. Bagi mas-mas, mbak-mbak yang sudah baligh. Atau, bagi bapak-bapak, ibu-ibu: begitu "mimpi indah basah", bisa segera mandi wajib.

Tapi untuk melakukan yang "segera" itu memang cukup berat. Dan bisa benar-benar berat. Iya tidak jamaah sekalian? Kalau langsung mandi, Anda sempolan. Eh...jempolan.

Suatu waktu, dalam menguji keimanan, pernah Syekh Abdul Qodir Jaelani dalam suatu malam diuji oleh Allah SWT. Beliau sampai mandi wajib 40 kali semalam. Bayangkan semalam, jamaah semuanya.

Begitu beliau terlelap tidur, mimpi indah, mandi.

Setelah mandi, beliau tertidur lagi. Bukan sengaja tidur ya, tapi tertidur. Dibuat tertidur oleh Allah.

Begitu terbangun, beliau langsung mandi. Tertidur lagi. Mandi lagi. Tertidur lagi. Mandi lagi. Sampai 10 kali. Bayangkan.

Jamaah sekalian, bagaimana dengan kita yang hidup di zaman ini? Tentu ada yang nunda. Nanti saja deh, kalau mau shalat subuh. Masih dingin nih. Masih enak di kasur.

Jamaah semua yang dimuliakan Allah.

Begitu hebatnya beliau menjaga kesucian. Itu ujian keimanan dari Allah untuk Syekh Abdul Qodir. 

Ini ujian untuk keimanan. Ujian bukan datang saat Anda susah. Ujian bisa juga datang saat Anda bahagia. Hidup ini memang ujian.

Para hadirin semua.

Lalu bagaimana dengan level di bawahnya? Level dibawah suci. Yakni bersih atau kebersihan. 

Bapak ibu semua, serta semua yang hadir di majelis ini. Orang yang dalam keadaan bersih akan lebih bersemangat. Semangat untuk bekerja. Semangat untuk ke kantor. Semangat untuk memasak. Semangat untuk bertani. Semangat untuk apa saja. 

Sementara itu, orang yang memakai pakaian kotor misalnya, pakaian sudah dipakai berhari-hari, dipakai lagi, badan akan terasa tidak enak, badan akan terasa tidak nyaman. Jadi lesu. Jadi malas-malasan. Ogah-ogahan. Iya to? bisa dirasakan. 

Kalau kita tidak mandi saja sehari, badannya terasa tiak enak. Malas-malasan. Hidup menjadi tidak bersemangat. Tidak fresh. Jelas tidak nyaman.

Di saat kita belum mandi, badan terasa lemas. Di saat kita belum mandi, aras-arasen. Pinginnya tidur saja. Pinginnya tidak mau bergerak. Di kamar terus. Di sofa terus. Di kursi terus. Nonton televisi terus. Mainan HP terus. Sms-an terus.

Coba kalau kita sudah mandi. Badan akan terasa segar. Badan terasa nyaman. Mau bergerak melakukan sesuatu aktivitas, hendak beribadah pun semangat tanpa nunda-nunda.

Kalau belum mandi. Begitu dengar suara adzan duhur misalnya: nanti dulu ah....nanti dulu ah. Nunda-nunda. Nandi dulu ah...nanti...

Kalau sudah mandi, sudah bersih, begitu adzan bisa langsung wudhu. Bisa segera berangkat ke masjid. Shalat jamaah. Bagi laki-laki sunah muakkad, kalau tidak ada udzur.

Itu baru dalam keadaan bersih jamaah sekalian. Apalagi kalau sudah bersih dan suci. Sudah sangat siap untuk mendirikan shalat. Begitu dengar adzan menggema, tinggal berangkat. 

Mau wudhu lagi juga boleh, menambah kesunatan. 

Yang perlu diingat jamaah sekalian. Suci begitu dekat sekali dengan iman. Iman menjalankan kewajiban atas perintah Allah SWT. Sebab imam bukan sekadar diteguhkan di hati, diucapkan di lisan, tapi juga diiringi bukti nyata: perbuatan. Ya menjalankan shalat itu salah satunya.

Dan yang tidak kalah penting, salah satu sebab diterimanya shalat, sahnya shalat adalah suci.

Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah SWT.

Kaitannya dengan shalat, bersuci merupakan sebagian pekerjaan shalat. Kata “sebagian” tidaklah mesti berarti betul-betul setengah, sekalipun ada yang berpendapat betul-betul setengah. 

Salah satu ciri orang beriman itu adalah menjalankan atau mendirikan shalat. Shalat tanpa didahului wudhu, shalatnya tidak sah.

Begitulah Abdul mendapat penjelasan tentang suci sebagian dari iman. Penjelasan itu didapat dalam pengajian selapanan. Setahun kemudian. (titahkita.com)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mandi Wajib 40 Kali Semalam (Pak Kucing#8)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel