Hajat Anak Yatim Dijunjung Warga RT (Pak Kucinh#7) - TitahKita.com -->

Hajat Anak Yatim Dijunjung Warga RT (Pak Kucinh#7)

Ilustrasi sebelum sunat. (foto: antarafoto)

Hajat Anak Yatim Dijunjung Warga RT

---
INI benar-benar kompak. Jiwa sosial dan kemanusiaan warga tinggi. Keluarga yang digolongkan miskin -- di dalamnya ada empat anak yatim -- diperhatikan serius. Bukan malah dikucilkan.

Semua hajat dibiayai masyarakat. Sistemnya pun rapi. Seolah tanpa uluran orang lain. Pak RT pun memberi penjelasan.

***

Pernah terdengar keluarga itu di telinga Abdul Kholid -- anak Pak Kucing. Seorang ibu tinggal bersama anak-anak. Bapaknya sudah meninggal empat tahun silam. Meninggalnya tragis.

Di rumah yang tidak begitu luas, keluarga itu tinggal di bangunan sederhana. Status rumah kontraan. Belum terlapisi abu semen dan merahnya bata. Yang nampak anyaman bambu di dinding-dinding. Tiangnya dari kayu. Sebagian sudah ada yang keropos. Termakan rayap.

Rumah di sekitarnya juga bervarian. Ada yang megah, sedengan, hingga kecil. Reot. Tapi keluarga yang ada anak yatimnya, hanya itu. 

Prosentase angka kemiskinan di dusun seperempat. Kaya sepertiga. Sisanya tidak kaya tidak miskin. Pas-pasan.  

Anak yang mbarep usia siswa SMP. Yang kedua SD. Yang ketiga dan keempat seusia anak-anak TK. Semua golongan pria.

"Semua dibiayai warga,” kata sepupu Abdul.

Abdul datang ke rumah sepupunya jelang magrib. Keperluannya mengambil "kado pernikahan" yang lama tersimpan -- delapan tahun. Isinya ada gelas cantik, selimut, bingkai foto, handuk dan buku. Caping pun juga ada.

Semua kado itu masih bisa difungsikan. Bahkan diyakini bisa didayagunakan seumur hidup. Diwariskan ke anak cucu masih mungkin.

Suara adzan magrib muncul dari speaker. Dilafadzkan santriwan TPA yang ngaji sore di Musala Al Istiqomah. Ceritanya pun dipending dikit. Untuk menunaikan kewajiban. Shalat.

"Ibunya jualan cendol dawet di pasar. Ya sudah lama jualannya," tambahnya usai mendirikan shalat jamaah.

Ibunya berjualan meneruskan suaminya. Lika-likunya sebagai pengganti almarhum dalam menafkahi keluarga.

Pernah Abdul datang ke rumahnya mengantar sesuatu. Amplop bersisi uang. Beras zakat. Termasuk paket sembako -- tiga tahun belakangan ini.

Abdul hanya perantara saja dalam menyalurkan. Semua isi uluran sedekah itu dari orang kota.

"Nasinya dan lauk untuk hidangan tamu dari warga. Tendanya juga hasil urunan warga," lanjutnya sehabis menuaikan tiga rakaat.

Lebih dari itu. Bahan-bahan untuk lauk pauk sebagai pelengkap hidangan nasi yang membelanjakan warga. Yang memasak dan mengolah warga. Untuk tempat memasak aneka hidangan di shohibul hajat. 

Komplit. Ini untuk njagani, seolah semua yang mengeluarkan yang punya hajat.

Ini semua agar tidak membuat keluarga itu terbebani. Bisa melangsungkan hajatan seperti keluarga pada umumnya.

Yang "disunat", dipotong kulit ujung alat vitalnya, adalah anak nomor dua. Tiga minggu ini dia sedang libur sekolah. Libur panjang. Begitu masuk sudah kelas enam. Tatap muka. Tidak ada wabah.

"Warga yang membiayai supitan anaknya. Si ibu hanya menyediakan cendol dawet saja untuk menjamu tamu.”

Dari semua itu, warga juga tidak berterus terang kalau itu dari warga. Semua dirapikan. Tidak “obral mulut” ke orang lain. Terutama ke tamu. Atau ke tetangga dusun. Diviralkan di medsos juga tidak. Nanti bisa membuat malu shohibul hajat.

Semua ditutup rapat-rapat. Seperti menjadi rahasia. Yang nampak seolah semua dari yang punya hajat. Semua warga ikhlas membantu.

Rumah yang ditempati keluarga itu adalah rumah kontraan. Ajaibnya, yang punya rumah juga tak mau narik nomilan uang sebagai biaya sewa. Keluarga yatim itu bisa menempati sampai kapan saja. Gratis. Hak guna saja.

Bapakne wis mati suwi (Ayahnya sudah lama meninggal,” timpal ibu dari sepupu Abdul.

Kematiannya bapak dari empat anak itu tak terendus. Suatu waktu, ia merasa masuk angin seperti biasa. Minta dikeroki istrinya. Minset orang Jawa, kalau sudah dikeroki segala penyakit akan sembuh.

Tapi takdir berkata lain. Bapak dari bocah-bocah itu badannya terasa panas. Pilihannya tidur malam di lantai. Biar terasa lebih segar. 

Paginya bocah kecil yang terakhir mendekati sang bapak saat masih tidur. Badannya dirambatinya. Tapi tak ada gerak sedikit pun dari bapak. Dikira masih tidur.

Ibunya heran. Kenapa tak ada pergerakkan tubuh. Atau minimal suara kecil dari mulut. Atau pun jari-jari tangannya bergerak pelan.

Ibunya mendekat. Mencoba membangunkan. Tapi tak ada tanda-tanda untuk bisa menikmati terangnya sinar matahari. Suasana pecah. Ibunya bingung. Dipanggilah anak nomor satu.

Tangisan bertubi. Mulai dari ibunya -- yang lambat laun bisa menahan tetesan air mata. Tapi tangisan jagoannya tak dapat dibendung. Makin lama makin keras. Tetangga kanan - kirinya mendengar.

Tangisan itu menjadi magnet, warga untuk datang ke rumah itu. Benar saja. Bapak itu meninggal.

“Memang komitmen warga kami untuk selalu memperhatikan anak yatim. Yatim piatu. Siapapun itu. Entah memberi santunan atau pun bantuan lain,” tandas Pak RT di lain waktu. (titahkita.com)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hajat Anak Yatim Dijunjung Warga RT (Pak Kucinh#7)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel