Kaya Raya dalam Lima Menit (Pak Kucing#5) - TitahKita.com -->

Kaya Raya dalam Lima Menit (Pak Kucing#5)

foto: titahkita.com

Kaya Raya dalam Lima Menit (Pak Kucing#5)
---
PAK Kucing diajak menimbang-nimbang.
Menjadi kaya raya tapi harus melalui proses lama. Bertahun-tahun. Lima tahunan lebih.
Atau...
Menjadi kaya raya melalui proses singkat. Dalam hitungan menit. Lima menit.
“Lima menit mau kaya. Kaya dari mana. Miara tuyul. Ah tidak ah. Itu dilarang. Dosa,” kata Pak Kucing.
Mau kaya raya ya harus kerja keras. Bangun pagi. Pulang sore. Bergaji Rp 10 juta per bulan.
Atau...
Menjadi pebisnis yang tak pernah merugi. Omzet minim Rp 5 juta per bulan. Bulan ke bulan berikutnya omzet menanjak lagi.
Dan itu butuh proses lama.
“Mau kaya cepat ya korupsi. Korupsi dari mana. Saya bukan pejabat. Mau jadi wakil rakyat saja tak punya duit.”
“Paling-paling korupsi dalam mimpi. Dapat uang banyak di alam semu. Di alam nyata, mendengar adzan subuh uangnya sudah hilang.”
Mau kaya cepat? Ya mencuri. Mencuri uang di bank. Mencuri emas, mutiara, berlian di pusat perhiasan.
“Mau kaya cepat, waktu singkat tapi kok itu dilarang agama. Agama saya. Islam,” gumalnya.
Haram mencuri pakai teknik apapun.
Pertimbangan-pertimbangan itu muncul setelah Pak Kiai mengajak Pak Kucing mikir.
Mikir sesuatu yang dipikirkan. Penting untuk kehidupannya. Manfaat dunia. Manfaat akhirat. Dapat dua-dua. Menyenangkan.
Bagi yang sudah berusia tua sudah tidak ada kesempatan menjadi kaya raya. Tenaga, pikiran sudah mulai melemah. Akan kembali lagi seperti anak kecil.
Usianya sudah uzur.
Sudah dikenal luas usai tua sudah dekat dengan kematian. Walau tak menjamin yang muda mati belakangan, yang tua mati duluan.
Mati sudah menjadi garis Tuhan. Tidak bisa ditawar. Rezeki habis. Mati pun datang. Semua tinggal menunggu waktu. Menunggu ajal. Batas hidup di dunia. Terbatas. Dibatasi.
Kalau di akhirat kekal. Begitulah kepercayaan kami. Maka untuk hidup kekal perlu bekal. Mencarinya di dunia.
Lantas bagaimana orang tua, atau anak muda yang sudah ingat mati mau kaya raya? Bisa sebagai bekal di akhirat nanti.
“Yang miskin. Yang tidak punya harta banyak untuk sedekah jangan kecil hati. Anda tetap kaya,” jelas Pak Kiai.
Agama itu datang membawa keadilan. Sedekah juga untuk investasi akhirat. Ibadah lain di luar sedekah juga untuk investasi akhirat. Catatanya, niatnya benar dan ibadah di terima oleh-Nya. Sedekah banyak. Pahalanya banyak.
“Jika melakukan amalan ini, lebih baik daripada dunia dan seisinya,” kata Pak Kiai.
Di dunia bermacam isinya. Limpahan harta, limpahan rumah, limpahan mobil, limpahan emas, limpahan berlian. Semua itu kalah dengan ini.
“Jalani saja salat dua rakaat fajar. Salat sunah qobliyah subuh. Anda sudah menjadi kaya raya. Waktunya lima menit saja.”
“Tapi berat melaksanakannya,” sahut Pak Kucing.
Bagi yang belum terbiasa memang berat. Beratnya bangun pagi-pagi. Sebelum matahari terbit.
Saat waktu subuh tiba. Begitu mata terbuka, setan akan memberikan bisikan kuat.
Masih dingin. Berselimut lagi saja. Masih mengantuk. Tidur lagi saja.
Awas! di belakang rumah. Dekat tempat wudhu. Ada pocong, kuntil anak, manusia tanpa kepala. Bisikan setan akan ada saja. Di situlah kita berperang. Menang mana?
Beribadah butuh dipaksa. Paksakan diri. Beranikan diri. Tidaklah rugi. (titahkita.com)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel